IBX59089D8220A8F

Kontroversi MLM

Stop untuk menghakimi bahwa Bisnis MLM adalah Bisnis yang hanya menguntungkan bagi upline-nya, Pelajari Apa itu Multi Level Marketing (MLM) atau Pemasaran Berjenjang? adalah sistem penjualan yang memanfaatkan anggotanya sebagai tenaga penyalur secara langsung. Sistem MLM bagi si Produsen atau Perusahaan pemilik MLM merupakan sistem sangat efektif melihat dari segi waktu dan biaya dalam mendistribusikan produknya.

Sebagai reward kepada member karena telah membantu pendistribusian produk, MLM biasanya memberikan potongan harga langsung atas produk yang dibeli oleh anggota. Selain potongan harga langsung, member juga berhak atas bonus rekruitment, yaitu bonus yang diberikan bagi anggota yang merekrut anggota lainnya sampai kedalam level tertentu. Sehingga dengan sendirinya akan terbentuk suatu jaringan pemasaran. Jadi pada intinya sama seperti sistem distribusi normal, seperti sistem keagenan, dimana Distributor mempunyai kaki tangan yang disebut Agen.

Lalu, apa yang menyebabkan adanya kontroversi mengenai bisnis MLM di Indonesia? baca artikel berikut untuk menjelaskan bahwa tidak benar adanya pernyataan miring mengenai usaha networking ini.

Keanggotaan MLM

Setiap anggota yang ingin menjadi member suatu MLM haruslah melalui prosedur perekrutan yang disebut Member Get Member. Sehingga timbullah apa yang disebut Promotor (Upline), yaitu anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru yang mendaftar hasil rekrutan promotor. Disinilah sering terjadi kerancuan di masyarakat terhadap sistem MLM.

Seringkali anggota berlomba-lomba bahkan berebut membentuk jaringan paling banyak, bahkan banyak ditemukan kasus jegal-menjegal atau bahkan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan member

Sehingga timbul image buruk di masayarakat terhadap MLM tertentu. Bahkan ada yang berpendapat, kalau menjadi member suatu MLM hanya akan menguntungkan Upline-nya saja. Padahal tidak demikian, pada sistem MLM modern, komisi yang diberikan kepada upline sebanding dengan usahanya membentuk dan mengaktifkan jaringannya.

Semakin banyak dia merekrut anggota yang aktif membeli dan menjual produk, maka akan mendapatkan komisi yang setara dengan usahanya tersebut. Demikian sebaliknya, jika promotor hanya mengembangkan jaringan tanpa memperhitungkan omzet jaringannya, maka komisi yang akan didapatkan sesuai pula dengan usahanya.

Kontroversi Upline – Downline

Jangan samakan sistem MLM dengan sistem permainan uang yang bersifat piramida. Sistem MLM pada hakikatnya adalah sebuah sistem distribusi barang yang memanfaatkan anggotanya sebagai konsumen juga sebagai distributor atau agen atau sales. Banyaknya bonus yang didapat berasal dari omzet penjualan yang didistribusikan melalui jaringannya.

Semakin tinggi kedudukannya di salah satu keanggotaan MLM maka semakin banyak pula tugas yang diembannya terhadap jarinnya jika dia ingin mencapai target tertentu. Berbeda dengan system piramida permainan uang, dimana tidak ada produk yang diperjualbelikan. Bonus yang didapat pada sistem piramida ini berasal dari perukrutan, semakin banyak dia merekrut member, maka semakin banyak bonus yang diterimanya.

Jujur saja, saya sempat berpendapat “miring” terhadap keanggotaan MLM. Waktu itu penilaian saya hanya berdasar kepada opini yang berkembang disekitar saya, tanpa mengecek kebenarannya dengan mempelajari dengan seksama sistem MLM. Waktu itu saya merasa akan kesulitan memasarkan produk MLM, makanya saya tidak pernah membuka diri untuk MLM. Tapi berbeda dengan MLM Fashion, dimana Fashion sudah menjadi kebutuhan hidup sehingga yang saya rasakan tidak terlalu sulit untuk menjual produk fashion di dimanapun saya berada.

Walaupun demikian, keterbukaan saya terhadap MLM bukan berarti telah menerima semua sistem kememberan MLM. Sampai saat ini ketertarikan saya untuk menjual produk MLM Fashion karena memang ditempat saya bekerja banyak peminat busana kantoran atau bahkan lifestyle berbusana seperti artis yang memang produk tersebut didominasi oleh MLM Fashion.

Selain itu, Dengan menjadi member MLM Fashion, saya mendapatkan potongan langsung penjualan berkisar antara 20% hingga 30%. Artinya ambisi untuk mengembangkan jaringan masih belum ada perencanaannya atau belum melakukan langkah-langkah yang serius untuk merekrut anggota. Sekarang yang terfikir adalah bagaimana menyediakan produk fashion yang lengkap dengan kualitas yang berbeda sesui dengan kemampuan konsumen, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan omzet yang lebih banyak akan semakin mudah dicapai (Fashion Domaniation).

Tips Memilih Keanggotaan MLM

Hal yang harus diperhatikan ketika akan memilih keanggotaan MLM diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Pastikan anda mencari informasi mengenai perusahaan MLM yang hendak anda ikuti, mulai dari Profile perusahaan, managemen, contact info dll. Pastikan MLM tersebut telah terdaftar di Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI). Dengan terdaftar di APLI setidaknya perusahaan tersebut telang mengikuti organisasi resmi penjual langsung.
  • Produk MLM yang akan dipasarkan, mulai dari kualitas, kemungkinan market share, kemudahan mendapatkan produk, keluwesan retur dan customer services.
  • Bonus dan juga reward yang diberikan mungkin juga menjadi kriteria yang tidak kalah penting untuk dipertimabangkan.
  • Satu lagi, jika ingin benar-benar menekuni bisnis MLM, maka carilah MLM yang belum menjamur di masyarakat. Sehingga akan jauh lebih banyak kemungkinannya bagi anda untuk mengembangkan jaringan. Rekomendasi kami untuk MLM Fashion yang belum menjamur seperti MLM Keiza (Celebrity Fashion), MLM Kokopelli, MLM Amoret dll.

Leave a Reply