IBX59089D8220A8F

Berbagi Pengalaman Memulai Usaha Jualan Baju dan Fashion

Kami bekerja di salah satu perusahaan Jepang yang cukup terkenal dan mempunyai Brand Image yang diakui di pasaran, yang terletak di daerah Cikarang, Bekasi. Di awal usia pernikahan kami, tidak pernah terfikir untuk mencari peluang usaha jualan baju dan produk fashion yang lain, karena kami merasa gaji kami berdua sudah lebih dari cukup, apalagi saat itu pekerjaan sedang banyak-banyaknya sehingga uang lemburan-pun terus mengalir.

Seiring waktu berjalan, lahirlah anak pertama kami pada bulan September 2007 dengan operasi sesar. Ya, suasana rumah tangga-pun mulai berubah, begitupun dengan pemenuhan kebutuhan.

Waktu itu sedang jor-joran kredit ini, kredit itu untuk melengkapi peralatan rumah tangga dan lain sebagainya. Tidak terfikir sebelumnya, dengan lahirnya buah hati kami yang pertama kebutuhan-pun akan meningkat drastis, terutama susu bayi yang memang harganya selangit. Akhirnya kami mengalami tahun-tahun “besar pasak daripada tiang”.

Dari sana mulai terfikir untuk mencari uang tambahan selain dari gaji bulanan yang kita terima. Saya sempat membuka les private komputer, service dan jual beli komputer. Namun tidak berjalan mulus dikarenakan minat dan permintaan terhadap komputer masih sangat minim di daerah kami.

Kehidupan-pun tidak menjadi lebih baik, tagihan bank, tagihan kartu kredit dan tagihan kredit barang menjadi momok menakutkan bagi kami pada waktu itu. Sempat beberapa bulan, gaji kami hanya cukup untuk membayar tagihan-tagihan tersebut, sehingga untuk biaya hidup, kami berusaha mencari pinjaman ke teman, orang tua bahkan tetangga. Sungguh kondisi perekonomian yang sama sekali tidak pernah saya perkirakan sebelumnya.

Disaat kondisi ekonomi kami yang belum pulih, kami diberi kebahagiaan yang kedua dengan lahirnya anak laki-laki kami bulan Juni 2009, bahagia campur duka… Terlintas di hati… Ya Allah, bagaimana kami mencukupi kebutuhan kedua anak kami, sedangkan kondisi kami sedang kesusahan…
Dengan keyakinan Allah SWT akan memberikan jalan bagi kita untuk merubah nasib keluarga kami menjadi lebih baik, kamipun terus bertahan melewati hari-hari tanpa uang lebih, bahkan kekurangan. Pada awalnya, hari Sabtu pada bulan November 2009, saya mengajak anak saya yang pertama untuk gunting rambut ke salon. Setelah selesai, anak saya meminta minum dan kebetulan kami tidak membawa air dari rumah… akhirnya saya melangkah ke sebuah warung yang tidak jauh dari salon tersebut.
Disebelah warung tersebut, ada gerai/stockist busana muslim, sebenarnya sudah dari dulu saya mengetahui keberadaan gerai tersebut, bahkan setiap hari saya duduk di terasnya menunggu bus jemputan kerja, namun tidak pernah sama sekali ada keinginan untuk masuk atau sekedar melihat-lihat pakaian yang dijual.
Tapi entah kenapa pada hari itu kaki saya sangat ringan melangkah masuk ke stockist tersebut, padahal saya tidak bawa uang sama sekali. Untungnya ibu penjaga toko sangat baik dan ramah melayani saya bahkan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan. Disaat pembicaraan antara kami berjalan, saya melihat ada beberapa Katalog Fashion di atas etalase, lalu saya baca dan saya lihat-lihat isinya, langsung saja terlintas di fikiran saya “kalau saya sebarkan dan perlihatkan katalog-katalog ini ke teman-teman di PT mungkin ada yang tertarik, karena sebagian teman saya berkerudung”.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk meminjam katalog di toko tersebut. Katalog Fashion yang saya pinjam saat itu adalah Katalog Qirani dan Toyusin.
Saya menanyakan keuntungan bagi saya ikut berjualan, minimum order dan detail lainnya sampai ke retur atau komplain customer. Setelah banyak menerangkan sistemnya, ibu tersebut menawarkan satu produk katalog MLM Paloma, mungkin ini kali pertama saya melihat-lihat katalog fashion, dan saya terkaget-kaget ketika melihat harga-harga yang tertera di katalog… dalam hati saya bilang “mahal-mahal banget harganya, apakah bisa laku di tempat kerja dan apa ada yang mau jadi membernya?”.
Setelah diperbolehkan meminjam beberapa katalog pakaian dan MLM tersebut, saya pulang dan memperlihatkan kepada istri saya dan membicarakan maksud untuk berjualan. Tanggapannya waktu itu terkesan biasa saja bahkan sempat menurunkan semangat saya dengan alasan, “Kita tidak punya modal untuk berjualan barang yang mahal-mahal ini, lagian mamah tau sendiri temen-temen di tempat kerja sudah terbiasa memberli barang dengan cara mencicil. Apa kita sanggup menyediakan modal yang cukup?”.
Sebenarnya saya ragu untuk menawarkan Katalog Paloma ke teman-teman, karena harga produknya yang selangit. Tapi daripada mubazir, sudah dipinjamkan tapi tidak dimanfaatkan, akhirnya saya nekat menawarkan ke teman-teman dekat satu bagian. Diluar dugaan, sambutan mereka cukup antusias terhadap katalog-katalog yang saya bawa termasuk paloma, bahkan hari itu juga ada beberapa teman yang order.. bahkan ada yang memesan lebih dari 3 barang, subhaanAllah… benar-benar diluar dugaan.
Dari sana, semangat saya mulai terpompa untuk berjualan. Sampai dirumah, saya ceritakan semuanya kepada istri dan alhamdulillah kali ini istri mendukung sambil terheran-heran… “barang segitu mahal masih ada aja yang mau beli, bahkan banyak lagi ordernya…”. Setelah kalkulasi jumlah orderan teman2 sekitar 2 Juataan, lalu kami tersadar, dari mana kami mendapatkan modal untuk memenuhi order ini.
Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil pinjaman ke bank yang memang pada saat itu sedang promo ke tempat saya bekerja, jadi prosesnya tidak terlalu lama. Setelah dipotong pembayaran ini itu, sisa uang kami adalah Rp. 3.000.000,- Tiga Juta Rupiah sebagai modal awal usaha kami.

Pelajaran pertama yang kami dapatkan adalah:

  • Jangan pernah menilai selera calon pembeli secara sepintas, kita tidak pernah tau selera dan kemampuannya dalam membeli sesuatu.
  • Selera Fashion setiap individu berbeda-beda, jadi lebih baik kita menawarkan produk yang beragam yang dapat mewakili semua selera dan kemampuan calon pelanggan untuk membeli.
  • Modal minimum ideal untuk memulai usaha ini adalah Rp. 1.000.000.
  • Untuk memudahkan pemasaran, selalu ikuti keinginan konsumen. Misalnya di PT tempat saya bekerja, orang terbiasa membeli barang dengan cara mencicil, maka saya mengikuti permintaan dengan mengkreditkan produk fashion saya 2 kali bayar.
  • Jangan pernah takut untuk memulai suatu usaha, tetap percaya bahwa tuhan akan memberikan jalan yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Kejadian tersebut merupakan sekelumit kisah yang kami bagikan, besar harapan kami ada sebagian pembaca yang terinspirasi untuk memulai suatu usaha, apapun itu asalkan bermanfaat. Bagi yang berminat untuk mencoba menjalankan usaha menjual produk pakaian atau produk fashion lainnya, baik yang MLM Fashion atau non MLM, silahkan ikuti terus update blog ini, atau mendaftar sebagai pelanggan melalui pendaftaran RSS.

One Response

  1. teddy lisa Januari 15, 2017

Leave a Reply